Yahoo News: Top Stories

There was an error in this gadget

The Daily Puppy

There was an error in this gadget
There was an error in this gadget

WELCOME 3:)

LETS ROCK WITH THE WORLD
MAKING WORLD KNOW WHO US
and SHOWING REASON for OUR EXISTENCE

Total Pageviews

Sunday, November 18, 2012

BAB1 Lovely Dreamers, Art edition


  Bertiuplah angin dengan kencang ditemani oleh kelabunya awan. Di arah utara burung-burung berterbangan, bertukar posisi mereka, saling tolong-menolong, tidak pula mereka terjatuh.
                Jika orang bertanya filosofi apa yang paling indah, itulah filosofi burung. Saling berbagi dan tolong menolong lah mereka. Semuat lain lagi, bertukar antena merupakan kebiasaan, tidak mau kalah lebah, mereka bekerja untuk sang Ratu, pengorbanan diajarkan disini.
                Postur tubuh yang besar dan tinggi, itulah hal yang kupunyai di bawah langit yang kelabu ini. Menatap kejauhan disertai renungan, kadang kala aku bertanya,
                “Kemana aku harus melanjutkan sekolah?”
                Teman, kalau kalian mau tahu sebenarnya aku baru saja lulus SMP. Kemarin adalah hari pengumuman kelulusan UAN. Hari yang sangat ditunggu-tunggu. Hari yang mendebarkan dan menggairahkan.
******
                Berkumpulah para siswa hari itu di aula, takutlah mereka. Semua bertanya-tanya, akankah semua ini sia-sia?
                Dag, dig, dug, dag, dig, dug
                Keluarlah bunyi tersebut dari jantung para siswa.
                Was-was lah semua. Hingga datang seorang guru, pakaiannya putih, kumisnya panjang, secarik kertas tergenggam erat ditangannya. Berbagai mata tertuju padanya.
                “dag, dig, dug.”
            Ditempel lah tulisan itu olehnya, dag dig dug, tangannya terbuka sebagian, dag dig  dug. “Pengumuman kelulusan UAN MTsN Jambotape”, histerislah para siswa, dag dig dug, diangkatlah tangan yang menutupi kertas dan-

“Selamat siswa-siswi MTsN Jambotape, kalian lulus 100%“
Hening,
            Lalu
            “Uoooooooo.”

Mereka semua berteriak kegirangan. 3 Tahun bukanlah waktu yang pendek, dan itu tidak pula berakhir sia-sia.
                Di pagi hari terbangun untuk berangkat sekolah, malam hari lebih lagi, tugas menyertai, namun tiada yang sia-sia. Ini berbuah hasil. Tingkat kelulusan 100 % makin meningkatkan rasa bahagia yang muncul kali ini. Tiada terdengar sedikitpun tangis kesedihan melainkan tangis kebahagiaan yang membahana.
                Berdirilah aku dengan tatapan yang ksong, hitam, gelap. Tiba-tiba terdengar bunyian dari sebelahku.
                “Beli cat yuk.”
                Semua yang mendengar bunyi itu langsung merespon, bagaikan sinyal yang sudah lama dinanti,
                “Ayo.”
                Mirislah aku mendengarnya. Bukankah sujud syukur merupakan kegiatan yang paling utama saat ini?
                Berhamburanlah semua pionir itu menuju toko-toko, untuk membeli cat tentunya, 10 menit waktu yang dibutuhkan, lalu batang hidung pionir-pionir itu kembali terlihat. Kekacauan terjadi. Mereka mulai menyemprot satu sama lain, terjadilah perang, tidak ingin terlibat beberapa manusia, mereka mencoba mencari kebebasaan, namun, “Sroot.” Naas.
                Tidak ada yang berhasil selamat kecuali beberapa anak yang terjabah oleh takdir-Nya hari itu. Dan aku merupakan bagiannya. Aku memutuskan pulang.
                Di rumaha yang terlihat didalam pupil mataku yang telah mendapat akomodasi yang sesuai dari iris adalah warna putin. Bersallah ia dari kendaraan CRV. Ini mengartikan ayah sedang eksis dirumah.
****
                CRV si putih yang tetap setia menemani sang dokter, yaitu ayahku. Sesuai dengan jas putih yang dipakainya ketika menghadapi pasien, dalam rangka melaksanakan tugas Tuhan. Jika dihitung, ini mobil keenam.
                Mobil pertama adalah si merah, merknya Kijang. Hal itu berbarengan dengan spesialis kandungan yang diambil Ayah. Meinnnya masih lama dan sering meraung-raung dengan kasar. Tiga tahun lamanya dia bersanding dengan kami sebagai transportasi hidup. Lalu kami sekeluarga pindah ke Bannda Aceh. Jika kita berjalan di kota besar, tentu kita memesan taksi blue bird, dan mobilny adalah soluna, itulah mobil kami dulu. Itu mobil kedua ayah, benar-benar mewah, dulu.
                “Brrrrrrr.”
                Kijang, sesuatu yang terasa sangat buruk jadinya jika melihat suara soluna yang benar-benar halus. Sampai sekarang, si biru itu masih aktif digunakan, kini dia digunakan oleh pamanku dan masih merupakan satu-satunya di Aceh.
                Soluna bertahan cukup lama, jika kita menggunakan perhitungan Masehi, ada kurang lebih 2 tahun dia bersama. Dan seperti yang sudah diduga, menghampirilah kebosanan pada jiwa ayah. Dan momen puncaknya adalah ketika kami semua berlibur ke sabang. Bersinarlah mata ayah ketika melihat mobil-mobil sabang yang murah dan rupawan. RAV4 berwarna hijau berplat NA, itulah kendaraan ketiga pak dokter.
                Civic mobil keempat, kurang jelas apa sejarahnya, yang pasti ialah mobil keempat.
                Ketenaran ayah yang meningkat seiring dengan waktu membuat meningkatnya antusiasme pasien. Jika mengikuti teori kekayaan dokter, semakin banyak pasien maka semakin banyak uangnya. Uang ayah pun meningkat dan berinisiatiflah iya untuk membeli yang mewah.
                Muncullah si kelima, Audi namaya, erlok rupanya. Dipesan langsung dari Bandung, dan dibawa oleh sang paman menuju Aceh via Sumatra.Sama seperti Soluna, satu-satunya di Aceh. Tiap ia melintas dijalanan, tiada mata yang tidak meliriknya. Bagai memiliki kekuatan sihir tersendiri, mobil itu langsung menjadi primadona Aceh.
                Datanglah cobaan sebulan kemudian yang disebut tsunami, terenggutpula lah mobil itu. Civic juga menjadi korban pada peristiwa ini.
                Tidaklah terpukul ayah atas kejadian itu, bukankah seluruh keluarganya selamat? Harta benda hanya titipan, dia kembali kepada yang punya, berapaun harganya.
                Tentu ayah tidak tinggal diam, mencarilah ia pengganti Audi dan itulah si putih yang ayah miliki kini. CRV. CRV kini menjadi icon ayahku, setiap orang melihat CRV, dapat dipastika dr. Franky didalamnya.
******
                Didalam rumah ayah terlihat, bertanyalah ia tentang kelulusan,
                “Lulus bang?”
                Tanyanya gentle.
                “Lulus yah.” Dia menyalamiku dan aku juga menarik kesimpulan paa momen ini. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan ortu.

Wednesday, November 14, 2012

Tersesat dalam dunia di luar idealisme

Hari ini aku terpaku dan terdiam. membisu dan membeku. Aku kini sadar bahwa makna hidup berbeda-beda bagi tiap insan.

TIap orang berlari pada rodanya masing-masing. Tiap orang berlari diatas putaran mimipinya lalu ketika dia mendapatkannya, bukankah hal tersebut yang disebut dengan sukses.

Aku ingat ketika dulu aku baru masuk ke sekolah itu, semuanya hampa. Aku melihat berbagai orang luar biasa, dan sayangnya aku hanya menjadi penonton.

Lalu takdir Tuhan pun mengubahku, berbagai inspirasi datang, motivasi muncul, hingga aku bisa berdiri sekarang.

Sekarang aku berada pada FK terhebat se-Indonesia, disertai mahluk super jenius dari seluruh Indonesia. Jika melihat kebelakang kepada aku yang hanya seonngok daging dulu, bukankah ini adalah akumulasi dari berbagai Usaha dalam mewujudkan mimpi.

Namun sayangnya teman, mimpi bisa berubah. Jiwa manusia bukan hanya sesuatu yang monoton. Manusia bukanlah robot. Dia memiliki poros yang tak terkendali namun dikontrol. Dikontrol oleh yang diatas.

Namun apakah jika mimpi berubah berarti kita tidak konsisten? tentu tidak. Manusia adalah isan pembelajar yang luar biasa. Mereka akan mencari idealisme terbaik dalam hidup mereka, dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang lama, bahkan seumur hidup mereka. Maka jalanlah dijalan yang telah ditetapkan oleh tuhanmu yang akhirnya menjadi tersadar olehmu.

Seharusnya kita dapat berpikir bahwa seberapapun tebok yang menghadang, manusia diperkeannkan untuk mendakinya. Bukankah manusia diberikan otak untuk berpikir? Bukankah manusia diciptakan kaki dan tangan untuk banyak manfaat? Memberi? Dan dalam kasus ini mendaki.

Ingat teman. terus lah cari idealisme anda sendiri, seberapapun tersesatnya anda saat ini, karena nanti jika waktunya tiba maka yang timbul adalah harmoni.

Monday, November 12, 2012

GENOS: Olimpiade


Hari itu aku berjalan Hampa
Terdiam Hampa
Di dalam sekolah Hampa

Apakah tujuanku?
Hidup?Lalu untuk apa aku hidup?

Hingga suatu hari aku hidup dalam banyak sinar
Sinar Inspirasi
Muncul dari sekolah yang mengeandung berjuta Inspirasi

Aku tersadar
Aku bergerak
Akhirnya aku sadar bahwa arti hidup adalah mengejar mimpi dan cita-cita

Terus berusaha menggapainya walaupun jutaan orang menghadangnya
Terus berusaha meraihnya walaupun jutaan asa menyelimuti

Orang-orang menyadarkan aku
Dan kini aku sadar
Aku berusaha

Setiap malam ku kini adalah Buku
Perjuangan meraih mimpi itu
Tidur ku buku
Sarapanku buku

Orang-oang bertanya dan menertawakan, tapi aku tidak peduli
Aku pasti membuktikannya
Kepada berjuta orang yang meremehkanku
Kepada milyaran orang yang tidak mengerti aku mimpi

Hingga hari itu datang
Dan disana dikatakan akulah pemenangnya
Dia mengangguk
Dia ikut tersadar 

Friday, June 22, 2012

KAA, Adakah Palestina

Yang terbaru, buat diikutkan lomba VOA Palestina. Juga hadir di kompasiana http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/06/22/konferensi-asia-afrika-adakah-palestina/

Konferensi Asia Afrika, Adakah Palestina?


Masih teringat jelas hari itu. 29 bendera berkumpul, puluhan delegasi, puluhan meja, mewakili jutaan penduduk. Semua berkumpul didalam sebuah gedung, membela hak masing-masing, mencari jalan terbaik untuk permasalahan yang ada. Banyak negara berteriak “kami ingin merdeka”, memang benar teriakan itu terlihat manfaatnya saat ini, namun sayang ada satu yang terkecualikan.

Gedung tempat berlangsungnya perkumpulan itu kini telah ditinggal. Gedung itupun kini hanya menjadi sejarah. Sejarah 29 negara yang pernah mendirikan benderanya di luar gedung di gedung tersebut, dan berusaha memperjuangkan kedaulatan atas negaranya sendiri. Sejarah dimana pernah diadakan suatu perkumpulan besar untuk menjunjung hak sesama.

Kini gedung merdeka hanya tinggal menjadi bangunan tua. Tiap tahunnya diadakan peringatan untuk mengenang hari bersejarah itu. Bendera dinaikkan, pidato Bung Karno diulang kembali. Setiap hari-hari tersebut tiba, gedung itu pun seperti menyusuri mesin waktu dan kembali ke masa lampau.

Indonesia adalah negara terjajah. Tercatat dalam sejarah 4 negara besar pernah menginjakkan kaki dan berusaha untuk mngambil alih kekuasaan Indonesia, hal itu juga diriingi niat mencuri rempah-rempah. Tiap hari pada masa mereka adalah siksaan, setiap hari adalah penghinaan. Namun kini semua itu sudah binasa, ketika negara ini telah berdiri diatas kaki sendiri. Merdeka dari para penjajah tersebut.

28 negara telah merdeka. Namun, mengapa 28? Bukankah negara anggota KAA ada 29?

Jika kita melihat pada masa ini, ada satu negara yang sampai saat ini masih diganggu oleh “orang asing” di pemukimannya sendiri. Lebih lagi, ini merupakan satu-satunya negara yang masih dijajah di dunia saat ini. Tidak lain nama negara itu adalah Palestina.

Palestina sekarang sedang dalam kekacauan militer yang sangat luar biasa. Tidak hanya itu, carut maut konflik politik dalam negeri seolah mendukung hal ini terjadi. Dua partai oposisi. Hamas- Fatah. Seperti melupakan makna negara, mereka tidak peduli pada apa yang terjadi dengan rakyat. Hal yang mereka tahu hanya kemenangan partai. Gengsi ini lah yang terus dipertahankan selama berpuluh-puluh tahun.

Konflik dalam negeri ini menjadi faktor yang memperlancar zionis, yitu bangsa Israel, untuk menyerang dan menduduki palestina. Konflik pulluhan tahun tentang tanah, sejak zaman Nabi Muhammad hingga saat ini yang tidak kunjung selesai.

Banyak sekali teori dan spekulasi tentang alasan Israel menyerang Palestina. Serta banyak juga konspirasi yang terdapat didalamnya. Namun yang dilihat adalah alasannya. Untuk menghancurkan Hamas, bukankah ini yang menjadi alasan bagi mereka untuk menyerang Palestina? Walaupun mereka punya maksuda lain. Tapi bukankah jika tidak ada konflik dalam negeri ini maka mereka juga tidak punya kata-kata untuk menyerang?

Bom molotof, rudal, peluru, penjagalan, semuanya sudah menjadi “rutinitas” yang dialami oleh warga Palestina setiap saatnya.Tidak peduli wanita dan pria, anak-anak dan dewasa, ibu hamil dan balita, semuanya menjadi sasaran empuk.

Benar-benar suatu kondisi yang sangat tidak adil, dimana satu bersenjatakan kendaraan lapis baja, sedangkan satunya hanya dilengkapi dengan batu kerikil yang mereka jumpai. Alhasil para syuhada pun berjatuhan, Mereka mati tidak dengan kesia-siasan, bahkan ada yang mati sambil tersenyum.

Jika kita lihat hal diatas kita dapat bertanya, kemana spirit KAA yang dulunya ada di setiap negara anggotanya, yang telah berhasil membawa negaranya menuju kemerdekaan, kenapa ini semua tidak berlaku di negara ini? Kenapa palestina masih belum merdeka? Bukankah mereka juga termasuk negara anggota KAA.

Kemana negara anggota KAA yang lain? Tidak adalah yang bisa membantu dikarenakan tittle mereka sebagai negara yang pernah terjajah dan negara “berkembang?” Dimana negara-negara yang membentuk gerakan non-blok. Mengapa semuanya terdiam, dinikmati kebebasan dan kemerdekaan yang telah mereka raih. Lalu mereka melupakan sahabat mereka?

Gerakan non-blok yang memiliki tujuan untuk untuk menjamin “kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok” dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme, apartheid, zionisme, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi, interferensi atau hegemoni dan menentang segala bentuk blok politik seolah terdiam diri, apakah kongres KAA yang diadakan 3 tahun sekali tidak memiliki manfaat untuk menolong temanya? Bukankah mereka merupakan negara aliansi?. Lalu untuk apa gunanya Dasasila Bandung yang didalamnya terdapat prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.

Kemerdekaan yang telah diraih memang hasil perjaunagan diplomasi politik dan pertahanan dalam negeri sendiri. Namun itu semua memiliki negara anggota KAA sebagai penyokongnya. Namun kemampuan menyokong inilah yang kini sudah tidak dimiliki lagi oleh negara-negara anggota KAA yang tergabung dalam gerakan non-blok.

Jika kita melihat kondisi Palestina saat ini benar-benar seperti hanya kebohongan belaka sesuatu bernama KAA pernah terjadi. Wilayah Palestina masih saja terus digempur. Wilayah Al-Qudus, tempat dimana terdapat mesjid Al-Aqsa, masih merupakan tempat yang dikuasai Israel. Terhitung 87,5% wilayah Al-Qudus timur telah dikuasai Israel. Tidak hanya itu, tembok pembatas Al-Qudus timur dan baratpun telah dihancurkan yang membuat seolah dua wilayah Al-Qudus menjadi sa tu kesatuan.

Mesjid Al-Aqsa, mesjid yang sangat sakral bagi umat muslim juga telah dikuasai, sangat sulit bagi muslim dan rakyat Palestina untuk pergi kesana. Namanya juga sudah diganti oleh Israel menjadi Bukti Sianagog yang menandakan proses yahudisasi oleh zionis tersebut. Yahudisasi tidak hanya melibatkan mesjid Al-Aqsa, banyak tempat juga sudah diubah namanya. Sebagai contoh, nama jalan Wadi Halwah sebelah selatan Masjid Al-Aqsha diubah Israel menjadi jalan Maaleh David, Wadi Rababah menjadi Jay Hanom. Bukan hanya itu, nama-nama tersebut juga sudah mengganti nama-nama di peta online, sebut saja wikimapia dan google.

Padahal apa yang sebenarnya dilakukan Israel ini benar-benar telah berlawanan dengan sejarah dunia sendiri. Israel melakukan itu dengan alsan agama. Agama yahudi merupakan landasan bagi sistem politiknya. Bukan hanya itu, Israel juga pernah menyebut dirinya sebagai negara Yahudi, bukan negara sipil. Bagi mereka negara Israel adalah seluruh penduduk Yahudi di seluruh dunia. Hal ini membuat mereka menjadi negara pertama tanpa batas wilayah yang jelas.

Revolusi Arab sebagai salah satu contoh perubahan sejarah berpolitik bangsa-bangsa yang dulunya menggunakan metode yang sekarang dianggap klasik menuju metode yang lebih modern. Ini dapat terlihat dari upaya mayoritas negara Arab memecahkan modelnya selama ini dan berusaha membebaskan diri dari cap klasik dan masuk ke ranah modern dan masa depan, yakni dengan mengikuti perkembangan dan kemajuan dunia modern. Sedangkan Israel bertindak sebaliknya. Seolah melawan arus sejarah, Israel, dengan politik, hukum dan ideloginya tetap tanpak sebagai negara Timur Tengah yang lebih berafiliasi kepada masa lalu dibanding kepada masa kini; sebagai ‘negara’ otoriter, tertutup, penganut kekerasan, dan kaku dalam agama

Begitulah, Israel yang selama ini mempromosikan diri sebagai “oase” modernitas, demokrasi dan sekularisme di gurun tandus Timur Tengah, sampai saat ini masih tanpak sebagai entitas mitos dari cerita-cerita Taurat.

Namun ditengah-tengah badai yang menghantam warga Palestina, dengan Yahudisasi dari Israel dan agresi militernya, tetap saja rakyat Palestina tidak mau menjadi rakyat yang seenaknya diatur.

Sebagian besar warga Palestina memilih bertahan di wilayah Al-Qudus walaupun Israel telah emmerintahkan untuk meninggalkan rumah mereka.

Salah satu mantan Menteri Israel, Abu Arafah memilih untuk tetap tinggal di Al-Qudus. Mantan Menteri Urusan Al-Quds ini menegaskan bahwa apa yang dirinya beserta aleg-alegnya lakukan adalah untuk memberi contoh kepada warga Palestina cara untuk melawan penjajah Israel dan politinya yang kejam. Hal ini juga untuk memperlihatkan pesan kepada penjajah Israel bahwa mereka tidak akan keluar dari kota suci Al-Quds selamanya dan tidak akan menerima penggusuran rumah-rumah mereka serta penyitaan tanah mereka atau meninggalkannya. Pilihan meninggalkan kota atau mati “syahid” di kota suci merupakan dua pilihan wajib yang menjadi harga mati.

Jika rakyat berjihad dengan cara “aksi bertahan” lain lagi yang dilakukan oleh Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas. Dalam rilis yang diterima Pusat Informasi Palestina, Kamis (21/6) Brigade menyatakan telah berhasil sampai saat ini menembakkan sebanyak 86 rudal dan roket ke sejumlah pemukiman Israel yang berada di sekitar Gaza. Media Israel mengakui 18 warga mereka mengalami luka-luka, dan juga 11 prajurit Israel yang berjaga di perbatasan terluka dalam serangan yang dilancarkan Al-Qassam. Brigade Al-Qassam menegaskan bahwa mereka akan membela Gaza, dan tidak akan membiarkan kejahatan Israel terus berlanjut dengan mudah, ditegaskan bahwa musuh Israel akan membayar harga mahal atas serangannya ke Gaza.

Perjuangan-perjuangan inilah yang dilakukan oleh warga Palestina untuk mempertahankan tanahnya, harga dirinya, kemerdekaannya. Hal ini mereka lakukan seperti memiliki suatu spirit khusus, yang merupakan spirit agama. Namun apakah hanya spirit agama tunggalkah yang ada di mereka. Apakah tidak ada spirit KAA bersamanya. Spirit bahwa mereka satu-satunya negara anggota KAA yang masih merdeka.

Tidak hanya spirit negara Palestina sebagai anggota KAA yang diperlukan. Spirit negara-negara aliansi untuk membantu negara sesama anggota KAA harus dimiliki. Sehingga terbentuk tindakan untuk membantu Palestina. Hal ini harus sesuai dengan tujuan KAA dimana menghasilkan negara non-Blok yang bertujuan sebagai negara aliansi.

Pertanyaan sekarangadalah kenapa negara Aliansi masih terdiam? Haruskah Palestina sendiri yang berjuang? Lalu untuk apa adanya KAA. Untuk apa terciptanya gerakan non-blok. Apakah semua itu terhambat karena rasa takut kepada kekuatan politik besar bernama Israel? Dimana dibelakangnya terdapat kekuatan politik yang tidak kalah besar yang disebut negara super power bernama Amerika? Mari kita bersama-sama merefleksikan kembali.

Antara Idealisme dan Realita (Politik Kampus)

INi juga buat lomba yang udah deadline, karena udah deadline, buatnya sedikit aja deh :D

Antara Idealisme dan Realita


Idealisme, itulah kata yang sering didengar selagi mahasiswa. Masa dimana kita dijajal oleh segudang soft skill, dasar-dasar, dan kegiatan kemahasiswaan yang berguna untuk masa depan kita. Semua hal yang diberikan pada mahasiswa tersebut, semuanya berbentuk ideal. Ideal buat seluruh mahasiswa, serta ideal buat seluruh masyarakat.

Biasanya ketika kita baru masuk, kita disuguhkan sesuatu lingkungan yang baru. Sebut saja itu OSPEK dan MABIM. Pada OSPEK, masih mental kita saja yang ditempa, pada fase ini kita belum dijajal oleh idealisme. Namun pada saat MABIM atau Masa Bimbingan, idealisme mulai dipupuk. Mulai dari tridharma perguruan tingggi. 3 peran mahasiswa, serta soft skill dalam kehidupan sehari-hari dimasukkan disini.

Setelah selesainya mabim perjalan yang sebenarnya baru dimulai. Kita sudah diperkenankan untuk memilih mengikuti Unit Kegiatan Kemahasiswaan, bisa itu BEM, BPM, maupun UKM-UKM olahraga. Disinilah kita mengaplikasikan semua yang kita dapat pada masa MABIM. Disini juga pembelajaran yang sesungguhnya kita dapat. Kita jadi mengerti seperti apa cara bicara yang baik, jara berdiplomasi yang benar, cara menulis proposal, dan etika rapat.

Lalu jika kita telah naik tahun kedua, kita sudah bisa menjadi ketua-ketua organisasi. Dalam hal inilah politik baru dimulai. Baik ketika kita telah dipilih, maupun sebelum kita dipilih. Sebelum kita dipilih, kita dapat melakukan showing-off, mencari link yang banyaknya, serta menunjukkan kerja kita bagus dalam kepanitiaan. Dengan hal-hal demikian pemimpin sebelumnya, ataupun angota-anggota lainnya dapat memilih kita dalam Musyawarah.

Setelah terpilihpun kita masih dapat berpolitik, misalnya mengangkat orang sebagai staff atau kassie dari orang yang kita percaya. Ini memang politik, namun bukan sembarang politik. Inilah yang dinamakan politik bersih. Politik seperti inilah yang seharusnya ada dalam masyarakat. Politik ini akan mengangkat siapa yang paling kompeten untuk menjadi pemimpin. Siapa yang paling peduli untuk memegang amanah, dan siapa yang paling berkorban untuk memberikan kemashlahatan.

Namun sejatinya ini semua hanya idealisme. Idealisme yang ada ketika masa kita masih mahasiswa. Oleh karena itulah ini semua hanya berwujud idealisme. Bukan realita. Oleh karena itu jugalah masa mahasiswa selalu dikatakan masa dengan penuh idealisme, bukan masa realita.

Kalaupun kita melihat, memang sungguh mengherankan. Kenapa pemuda-pemuda yang dulunya hebat, ketika mereka naik ke atas, menjadi manusia-manusia kotor. Menjadi tikus-tikus pengerat, menjadi buaya-buaya penikam. Yang ada dipikiran mereka hanya keuntungan pribadi. Buakan keuntungan rakyat. Keuntungan partai, bukan kuntungan negara.

Mengapa?

Padahal dulunya mereka sama seperti kita. Mereka orang yang sibuk mengkritik pemerintah yang tidak benar. Mereka orang yang sibuk berdemo tentang kegoisan dan kekotoran pemerintah. Tapi mengapa pada akhirnya merek a sama saja? Apa yang menyebabkan ini semua?

Apakah masa teansisi ketika dari mahasiswa menjadi seorang politikus yang mengubah itu semua? Apa yang mereka dapat disana? Apakah mereka dipengaruhi, atau mereka diming-imingi, atau mereka merasa kalau mereka tidak mengikuti arus, maka mereka tidak akan sampai ke atas? Kalau demikian bukankah yang salah adalah pribadi mereka sendiri. Kegoisan mereka sendiri.

Jangan salahkan pemerintah jika demikian. Semuanya yang mengubah adalah kita, bukan mereka yang telah tua.

Oleh karena itu dari sekarang pupuk sebanyak mungkin idealisme kita, sehingga itu dapat menjadi realita. Bentuklah tim yang solid dengan teman-teman, tim yang akan mengubah dunia politik ini. Tim yang hidup dalam idealisme, tim yang peduli pada rakyat ini.

Jika sudah naik ke atas, lupakanlah masalah politik, lupakan masalah pencitraan. Sekarang di mata masyarakat, politikus hanya sebagai penipu, peraup untung pribadi, penghambur-hambur harta, orang yang lupa rakyat, serta orang yang rakus.

Jadi ketika telah diatas, buatlah suatu citra yang baru. Jadilah seorang birokrat, bukan politikus. Jika tetap menjadi seorang politikus, ciptakanlah parta yang bersih. Jangan masuk ke partai yang sudah ada sekarang, karena isinya hanyalah kekotoran semua.

Semua dimulai dari kita, agar idealisme, dapat disulap menjadi realita, agar Indonesia dapat disulap menjadi bangsa.

Cerpen Tentang "Surat Buat Presiden"

Kalau ini cerpen yang niatnya diikutkan lomba, tapi udah lewat tenggat waktunya

Surat untuk Indonesia



Pagi ini seperti biasanya Kholid duduk di ruang keluarga yang berada tepat di tengah rumahnya. Dengan ditemani oleh secangkir kopi panas yang dibuat oleh istrinya pagi ini kholid menonton Televisi dengan tenangnya. Tayangan yang ia buka merupakan tayangan favoritnya yaitu berita pagi.



Tidak habis bosan dia melihat berita itu, walaupun hatinya mengatakan, “pasti ini yang akan keluar”, namun dia tetap membetahkan dirinya untuk menonton tayangan itu. Berita korupsi, kelalaian anggota DPR pada saat sidang, unjuk rasa, kekerasan, pembunuhan, harga kebutuhan pokok yang terus meningkat dan masih banyak lagi adalah hal yang terus menghiasi layar kacanya. Dalam hal seperti ini hatinya terus berteriak “Indonesia, kapankah engkau berbenah”.



Akhirnya pagi itu dia berangkat menuju sekolahnya, SMAN 45 Makassar. Kholid merupakan seorang guru Bahasa Indonesia di sekolahnya. Dia merupakan guru yang baik dan disenangi oleh muridnya. Tidak ada hal yang membuatnya sangat kesal selama ini.



Pelajaran hari ini adalah tentang, pentingnya sastra dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini dia mengajar di kelas IX-B. Materi ini merupakan materi favoritnya setiap tahun, maka dia akan sangat semangat mengajarkannya. Akhirnya dia pun siap memulai pelajaran hari ini.

“Assalamualaikum anak-anak”

Kata Kholid setelah masuk kedalam kelas dan berdiri di dekat meja.



“Waalaikumsalam Pak”

Jawab anak-anak serentak.



Setelah anak-anak menjawab Kholid melihat keseluruhan kelas untuk memastikan semua anak hadir di kelas hari ini. Secara sekilas dia melihat semua hadir, namun ketika dia mencoba melihat dengan lebih detail, Dia melihat adanya kejanggalan. Ada satu kursi yang terlihat kosong. Kursi itu letaknya paling belakang, dan dia sudah hafal itu kursi siapa. “Andi”.



Siapa yang tidak kenal dengan Andi, seorang anak-anak yang namanya sering menjadi perbincangan hangat para guru setiap harinya. Mulai dari dia yang gossipnya seorang anak geng motor, pernah memukul temannya hingga berdarah, serta sering bolos sekolah.



Selama ini bagi Kholid perbincangan tentang Andi yang kurang baik tidak dia jadikan sebagai masalah selama Andi selalu baik ketika dia yang memberikan pelajaran. Namun hari ini dia mulai kesal, bukan hanya kesal biasa, bahkan sangat kesal. Hal ini dikarenakan Andi merupakan satu-satunya siswa yang bolos pada materi favoritnya.



****



Esok paginya seperti biasa dia duduk di depan TV untuk kembali menonton berita. Berita yang itu-itu saja tetap merupakan berita yang menghiasi layar kaca Indonesia. Setelah selesai menonton seperti biasa di pergi kesekolah, hari ini dia juga mengajar Bahasa Indonesia di kelas IX-B, namun materinya tidak sama seperti yang sebelumnya. Materi kali ini adalah tentang EYD.

Setelah dia selesai memberi pelajaran, dia menyuruh Andi untuk berdiri.

“Andi, berdiri.”

Andi pun langsung berdiri.



Hari ini Andi masuk kelas seperti biasa, tidak seperti kemarin dimana dia tidak hadir tanpa keterangan apapun.

“Kenapa kemarin kamu tidak masuk?”

Pak Guru bertanya dengan masih sedikit memiliki rasa kesal. Andi diam tidak menjawab.



“Saya tau kamu itu siswa yang cukup bermasalah Andi, namun saya tidak mau kamu bolos dari pelajaran saya. Kemarin itu adalah materi yang sangat penting untuk kalian. Yaitu tentang sastra dalam kehidupan sehari-hari. Itu materi yang sangat berguna bagi kehidupanmu. Memang kamu tau apa manfaat sastra dalam kehidupan sehari-hari."

“Tau pak, untuk mengirim surat.”

“Ya benar, tapi bukan cuma itu. Kamu tau yang lain?”

“Enggak pak”

“Makanya, lain kali kamu datang di jam saya. Jangan malah tidak hadir tanpa kejelasan. Jadi sastra itu dalam kehidupan sehari-hari memiliki banyak manfaat. Selain untuk berkirim surat, dapat juga untuk membuat puisi, melamar kerja, membuat laporan, berita, karya tulis, essay, makalah. Serta dapat juga untuk mengubah suatu pemikiran. Kamu mengerti?”

“Andi mengangguk.”

Hati Kholid mulai lunak kembali



****



Minggu depannya di hari Senin, Kholid tidak menonton TV. Hatinya sudah jenuh dengan berita tentang masalah-masalah di negeri ini yang akhir-akhir ini meningkat dengan drastis. Dia memutuskan untuk berangkat lebih dahulu. Dia pamit dengan istrinya, lalu keluar. Dalam perjalanan hatinya bergumam.

“Andai ada yang bisa menyampaikan perasaan kita para rakyat tentang semua ini, pasti pemerintah akan menjadi lebih baik.”



Hari itu pada jam pelajaran Kholid, lagi-lagi Andi tidak masuk. Hati Kholid yang tadinya sudah tenang mulai bergemuruh kembali. Hatinya sudah merasa benar-benar dipermainkan. Dia menarik nafas. Menghembuskannya. Lalu dia memulai pelajaran kembali dengan hati yang coba ia tenangkan.

Esoknya di jam pelajarannya, dia kembali menanyakan hal yang sama kepada Andi.



“Kemarin kamu kemana?”

Sunyi, sepi, senyap.

“Kamu benar-benar mulai mencari permasalah dengan saya kalau begini. Kamu masih mau ikut pelajaran saya gak?”

Tanya Kholid mengancam.

“Masih pak.”

Andi menjawab dengan suara yang sepertinya sangat pasrah dan ketakutan.

Mendengar jawaban yang demikian, hati Kholid menjadi lunak kembali.

“Baik, Andi, kali ini kamu bapak maafkan, tapi ini terakhir kali ya Andi, untuk selanjutnya kamu tidak boleh seperti ini lagi?”

“Baik pak, terima kasih.”



Sesampainya dirumah, Kholid terlihat benar-benar pusing. Dia sangat lelah dengan kelakuan muridnya yang satu itu. Untuk meredakan stresnya dia mengghidupkan TV. Ketika dia menghidupkan TV yang tampak di layar kaca langsung berita. Setelah mendengarkan berita, stres Kholid malah makin bertambah. Melihat negeri ini yang makin amburadul, disertai dengan tingkah laku muridnya yang benar-benar tidak dimengerti membuat hari ini benar-benar menjadi hari yang berat bagi Kholid.



Istrinya yang melihat Kholid sangat terkejut dengan keadaan Kholid yang terlihat sangat stres. Istrinya pun langsung menyarankan Kholid untuk beristirahat.

“Sayang, kayaknya kamu kelihatan sangat lelah, sebaiknya kamu tidur dahulu.”

Kholid mendengar ucapan istrinya dan memilih untuk mengiyakannya, ia pun segera bergegas untuk tidur.



****



Minggu depannya di hari yang sama, hal yang tidak diinginkan kembali terjadi. Andi tidak ada di kursinya lagi. Melihat hal ini Kholid sudah benar-benar tidak tahan. Dia merasa muridnya ini benar-benar telah mengabaikannya.

Esoknya Di dalam kelas Kholid tidak lagi menyuruh Andi berdiri dan menegurnya. Andi yang semenjak dari awal jam pelajarannya sudah seperti bersiap untuk dimarahi dan ketakutan merasa heran dengan sikap dari Kholid. Andi pun merasa senang melihat dia tidak dipanggil.



Pada saat jam Istirahat, ketika sedang asyiknya jajan di kantin, Zufron teman Andi datang menghampirinya.

“Andi, kamu dipanggil Pak Kholid ke kantor.”



Wajah Andi yang tadi telah senang kembali menjadi gelisah. Dia tidak memiliki pilihan apapun saat ini. Dia harus ke kantor untuk bertemu Pak Kholid.

Setibanya di kantor, mereka berdua pun bertemu.

“Andi, kamu tau kan alasan saya memanggil kamu kesini.”

“Ya Pak.”

Andi menjawab sambil menunduk.

“Sebelumnya kamu ingin mengutarakan pembelaan.”

Andi hanya terdiam.

“Saya ingin bertanya terlebih dahulu. Kamu dengar-dengar merupakan anak yang cukup bermasalah ya, apa betul?”

Andi masih terdiam.

“Guru-guru disini sering membicarakan kamu tentang kamu anak geng motor, pernah memukul teman hingga berdarah, serta sering bolos sekolah.”

Andi masih terdiam. Dia sudah tau tentang pembicaran mengenai dirinya dari Zufron. Ayah Zufron adalah seorang guru disekolah ini dan ayahnya pernah menanyakan tentang kebenaran dari hal tersebut pada Zufron.

“Kamu mau bicara?”

Andi masih diam.

“Pok!”

Kholid memukul mejanya. Dia sudah sangat tak tahan lagi dengan kelakuan muridnya ini. Tidak datang tiga kali tanpa keterangan, lalu kini ketika ditanya malah membisu.

“Be, be, begini pak.”

Kata Andi terbata-bata dengan wajah yang sangat ketakutan.

“Begini apa?”

Tanya Kholid dengan suara yang keras.

“Kalau masalah geng motor, itu tidak seperti yang bapak pikirkan.”

Andi mulai berani berkata.

“Lalu bagaimana Andi?”

Tanya Kholid dengan nada kesal.

“Saya sedang menghemat uang jajan, jadi saya akhir-akhir ini pulang sekolah tidak naik angkot, tapi dijemput teman-teman saya.”

“Teman kamu anggota geng motor?”

“Bukan gitu pak, teman saya kalau pulang sekolah selalu bergerombol, makanya kelihatan seperti anggota geng motor.

“Oh”

Pandangan buruk Kholid pada muridnya ini sedikit berkurang.

“Kalau masalah memukul teman?”

“Waktu itu saya sedikit ada masalah dengan teman saya, lalu dia mau memukul saya. Saya mencoba menghindar, akhirnya malah tangan teman saya membentur tembok dibelakang saya, lalu tangannya berdarah.”

Kholid mengangguk, dia penasaran dengan masalah yang terakhir.

“Kalau tentang bolos sekolah?”

“Kalau itu waktu itu saya terkena cacar. Makanya tidak masuk dalam waktu lama.”

“Kenapa tidak memberi surat sakit?”

“Oom saya yang diluar kota dokter, Ibu saya menanyakan obat dengan menelpon oom saya. Obatnya diambil di apotik dekat rumah, itu apotik tetangga, jadi dia memaklumi memberikan obat tanpa resep, tapi asalkan benar obatnya merupakan permintaan dokter. Oleh sebab itu saya tidak dapat membuat surat sakit. Saya bukan orang kaya pak”

Mendengar jawaban itu Kholid sudah tidak emosi lagi, kini dia tau bahwa pembicaraan yang sering terdengar selama ini hanya gossip belaka. Muridnya tidak seburuk yang terdengar, bahkan, dia terlihat seperti anak yang baik.

“Oh, kalau gitu bagaimana dengan bolos di jam saya di hari yang sama 3 kali berturut-turut?”

“Itu....”

“?”

“Saya sedang menulis surat pak.”

“Menulis surat butuh bolos?”

“Itu surat yang penting pak, saya untuk mebuatnya harus mencari kata-kata yang baik di pagi hari, karena hanya pada saat pagi hari otak saya benar-benar jalan.”

“Kenapa tidak hari sabtu atau minggu?”

“Saya kerja paruh waktu pak di warung makanan tante saya kalau dihari itu.”

“Lalu butuh 3 hari?”

“Ini surat sangat penting pak. Saya butuh waktu yang lama untuk menyiapkannya.”

“Kenapa harus di hari senin?”

Kali ini Andi agak sulit menjawab. Tapi dia memberanikan diri.

“Karena waktu itu ibu saya tidak ada dirumah”

“Jadi kamu tidak pergi sekolah tanpa sepengetahuan ibumu?”

“Iya pak.”

Kholid merasa makin bingung surat apa yang ditulisnya. Kholid bertanya lagi.

“Ibumu kemana?”

“Ibu saya terkena penyakit kencing manis pak. Hari senin pagi waktu dia untuk berobat ke dokter.”

“Oh. Lalu uang yang kamu kumpulkan selama ini untuk apa?”

“Pengobatan Ibu saya Pak.”

“Kenapa harus kamu ikut-ikutan untuk mencari uang, memang pekerjaan ayah kamu apa?

“Ayah saya sudah lama meninggal pak.”

Kholid benar-benar kehabisan kata-kata mendengar jawaban tersebut. Kini Kholid tau bahwa anak yang dihadapannya adalah anak yang luar biasa. Semua pemberitaan miring selama ini tentang dirinya hanya kesalahpahaman yang meluas.

“Lalu surat kamu sudah siap kan?”

“Sudah pak.”

“Boleh tau buat siapa?”

“Maaf pak, enggak boleh.”

“Baik sekarang kamu boleh kembali. Tapi karena surat kamu sudah selesai, kamu tidak akan bolos lagi kan di jam pelajaran saya.”

“Iya pak. Permisi pak.”

Andi meninggalkan ruangan.

Setelah Andi pergi Kholid menyadari tentang hal yang sangat luar biasa yang dilakukan muridnya. Kini Kholid tau bahwa siswanya ini merupakan siswa yang baik, kecuali masalah bolos hanya untuk menulis surat. Dia juga masih sangat penasaran surat apa yang ditulis oleh Andi dan untuk siapa.



Sesampainya dirumah, Kholid langsung terkurai lemas di sofa ruang keluarga. Seperti biasanya dia langsung menghidupkan TV. Berita kembali menghiasi layar kacanya dan dia juga sudah tau apa yang akan ada disana. Setelah habis menonton hatinya kembali bergumam.

“Pemerintah, tahukah kamu tentang perasaan kami.”



****



Akhirnya minggu depan Andi sudah kembali masuk dengan rutin di jam pelajarannya. Kholidpun sudah dapat bernafas lega bahwa masalahnya telah hilang. Setelah selesai mengajar, dia langsung pulang dengan tenang. Langkahnya ringan. Sesampainya dirumah dia membuka televisi. Lalu disana ada berita seperti biasa. Selesai pemberitaan, pembawa acara mengatakan tayangan selanjutnya adalah pidato kenegaraan Presiden. Dia baru ingat kembali kalau hari ini kabarnya Presiden akan melakukan pidato di Istana negara.



Akhirnya kini sudah masuk ke tayangan tentang pidato kenegaraan Presiden. Kholid sudah siap mendengar baik-baik di sofa dengan diteman istrinya.



Pidatopun dimulai.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu, salam sejahtera rakyat Indonesia. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT.”

Seperti biasa diawali dengan pembukaan. Lalu kini menuju bagian isi.

“Sebelum saya memulai pidato saya kali ini, ada hal yang ingin saya sampaikan.”

Kholid penasaran.

“Ketahuilah seluruh rakyat Indonesia bahwa negeri kita ini sedang diberikan cobaan yang bertubi-tubi. Mulai dari bencana alam, kemiskinan, kenaikan harga minyak dunia dan masih banyak masalah lainnya. Selain itu negeri kita juga mengalami banyak keburukan dalam bidang pemerintahan. Mulai dari DPR yang tidur pada saat rapat, korupsi, serta penyuapan para hakim. Tidak hanya masalah pemerintahanan, masalah juga terjadi pada rakyat Indonesia mulai dari pembunuhan, mabuk-mabukan, narkoba, hingga pemerkosaan.”

Kholid masih mendengar dengan khidmat.

“Oleh karena itu saya ingin menyampaikan sesuatu kepada rakyat Indonesia. Berbenahlah. Janganlah lagi kita melakukan kekerasan, pembunuhan, perampokan, perzinaan, dan mabuk-mabukan. Untuk yang duduk di kursi pemerintah sadarlah. Kita dipilih dari suara mereka, jadi lakukanlah sesuai dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Lakukanlah sesuai dengan apa kewajiban kita. Bukan dengan menjadi manusia kotor yang lalai dalam tugas. Bukan menjadi tikus yang memakan uang rakyat.

Saya menyampaikan ini mewakili hati seluruh rakyat Indonesia. Beberapa hari yang lalu ada surat yang masuk ke Istana dan ditujukan pada saya. Saya akan membacakannya sekarang.”



Kholid mulai merasa mungkin ini merupakan sesuatu yang pernah dia tanyakan dalam hatinya sebelumnya.

“Mungkin, mungkinkah?”



Kholid bertanya dalam hati seolah tidak percaya.



Presiden sekarang membacakan surat itu.

“Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatu.

Yth. Pak Presiden.

Saya hanya seorang rakyat biasa pak Presiden. Saya hanya ingin mewakili perasaan rakyat Indonesia melihat bangsa ini.

Hati kami sakit pak Presiden, hati kami malu dengan negara ini. Jika dibandingkan dengan negara lain, negara kita benar-benar menyedihkan.

Kita asyik bertengkar satu sama lain, kita asik menfitnah satu sama lain. Pembunuhan dimana-mana. Unjuk rasa dimana-mana. Kekerasan, pemerkosaan, penzinahan dan mabuk-mabukan menjadi identitas kita.

Di sisi lain, pemerintah, lebih mengecawakan lagi. Padahal mereka telah kami pilih, tapi mereka malah seenaknya tidur ketika rapat tentang aspirasi kami. Mereka dengan mudah melakukan korupsi pada saat mereka diamanahi untuk mensejahterakan kami. Mereka hanya memikirkan golongan dan partai mereka tanpa mementingkan kami. Yang mereka ketahui hanyalah uang dan politik. Kekuasaan dan kesenangan bagi mereka sendiri. Tapi tidak untuk kami.

Bukankah kalian kami yang telah memilih?. Apakaha kalian lupa dengan janji-janji kalian kepada kami. Apakah kalian lupa dengan apa yang telah diucapkan oleh lisan kalian sehingga kami berani untuk mempercayakan amanah itu kepada kalian.

Tidakkah kalian takut dengan api neraka yang begitu panas? Tidakkah kalian takut dengan hari dimana kalian diminta pertanggung jawaban.

Pertanggung jawaban atas kedustaan kalian, pertanggung jawaba atas daging haram yang tumbuh di tubuh kalian yang berasal dari makanan haram dari uang yang haram.

Setiap hari hati kami sakit melihat berita di TV. Berita tentang korupsi, penipuan, lalai dari tugas, dan keburukan lainnya. Gara-gara kalian begitu rakyat kalianpun jadi sama hancurnya. Pembunuhan, pemerkosaan, mabuk-mabukan, serta pesta narkoba. Padahal harusnya kalian yang memberi contoh kepada kami wahai para pemimpin. Wahai para manusia yang telah kami beri amanah.

Apakah kalian peduli dengan rasa haus anak miskin yang busung lapar. Dengan penyakit yang diderita orang-orang di lingkungan yang kumuh. Apakah kalian peduli dengan makanan yang kami makan sama dengan makanan yang dimakan oleh binatang. Apakah kalian peduli wahai pemerintah?

Ketahuilah wahai pemerintah, nyawa negara ini ada di tangan kalian. Nyawa rakyat kalian bergantung pada seperti apaan kalian memimpin.

Wahai pemerintah, dengarlah permintaanku.

Sadarlah.



Andi

Siswa SMAN 45 Makassar. “

Quo Vadis Kedokteran Islam

Baru-bari ini Alhamdulillah tulisan saya di masukkan di koran serambi Indonesia, ini dia.

Oleh Mohd Shanan Asyi

PRAKTIK kedokteran Islam kembali santer terdengar pada akhir dekade ini. Mungkin terlintas di benak kita pertanyaan: Apa sih bedanya praktik kedokteran Islam --yang sudah dimulai sejak masa Nabi Muhammad saw dulu sampai sekarang-- dengan praktik kedokteran pada umumnya?

Kedokteran Islam memegang prinsip bahwa segala penyakit yang memberikan adalah Allah, bukan virus, bakteri, dan agen patologis lainnya. Segala penyakit juga disembuhkan oleh Allah, bukan dokter yang hebat, obat yang ampuh, dan juga gaya hidup yang sehat. Kita wajib melakukan usaha-usaha dalam menjaga kesehatan kita, tapi semuanya kembali kepada Allah.

Praktik kedokteran Islam adalah segala macam upaya kesehatan yang dilakukan individu maupun kelompok yang tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis. Sering kali pikiran kita tersempitkan dengan memandang kedokteran Islam hanya sekedar tibun Nabawi (pengobatan ala Nabi), madu, bekam, dan habutussauda (jintan hitam). Padahal kedokteran Islam tidak hanya sebatas itu.

Jika kita merangkak dari definisi kedokteran Islam dapat kita dapatkan bahwa kedokteran Islam lebih dari itu. Pemerataan kesehatan, akses obat yang optimal, pengobatan bagi yang tidak mampu juga sesungguhnya merupakan bagian dari praktek kedokteran Islam itu sendiri. Model kedokteran Islam dapat dirumuskan sebagai berikut. Kedokteran Islam dibagi atas 5 aspek, yaitu: akidah, akhlak, fiqih, shirah, dan kafa’ah.

Aspek akidah artinya kita berusaha meningkatkan pemahaman tauhid dan level keimanan melalui ilmu kedokteran. Melalui upaya mengungkap hikmah kesehatan dari setiap ibadah, mengkaji berbagai isyarat kedokteran dalam Quran dan Sunnah, dst. Aspek akhlak, kita mengkaji seperti apa seharusnya etika praktik kedokteran yang sesuai Islam itu dilakukan oleh para dokter muslim. Dalam aspek Fiqih, kita mengkaji hukum halal/haramnya suatu tindakan medis (kontemporer) dari kacamata syariah.

Peningkatan kompetensi
Dari sisi shirah, kita belajar dan mengambil hikmah dari praktik pengobatan di masa Nabi dan para sahabat, serta periode emas kedokteran Islam, sehingga dapat kita terapkan di masa sekarang untuk kembali mencapai puncak kedokteran Islam. Dan, aspek kafa’ah, kita berupaya mendorong peningkatan kompetensi para dokter muslim, baik dari sisi medis dan nonmedis agar memiki kualifikasi yang mumpuni untuk melakukan praktik kedokteran secara maksimal.

Ketika kita belajar Ilmu Kedokteran maka akan terlihat banyaknya bagian ilmu kedokteran yang sejalan dengan apa yang telah disebut di dalam Alquran. Manfaat lebah dalam dunia kesehatan, proses embriologi, dan masih banyak lagi. Begitu juga sebaliknya, kita dapat melihat apa yang terdapat dan disebutkan dalam Alquran memiliki manfaat yang sangat besar jika ditinjau dari segi medis. Contohnya, shalat lima waktu yang sekarang sudah tidak diragukan lagi manfaatnya dalam bidang kesehatan.

Dalam aspek akhlak kita dapat mengkaji banyak hal. Sebagaimana kita ketahui bahwa permasalahan etika dalam dunia kedokteran itu sangat luas. Maka oleh karenanya dibutuhkan penemuan solusi melalui Alquran dan hadis. Selain dari pada itu kita juga dapat membuat etika khusus yang dapat dipegang oleh dokter meuslim.

Salah satu permasalahan yang cukup besar dalam dunia kedokteran saat ini adalah bagaimana jika terdapat pasien wanita yang pergi berobat ke dokter pria. Hal-hal yang seperti ini yang harus dibahas lebih mendalam agar terciptanya simpulan seperti apa etika dokter muslim yang seharusnya.

Melalui aspek fiqih kita dapat menentukan halal atau haramnya suatu makanan, obat-obatan, bahkan juga tindakan. Seperti kita ketahui, misalnya, tidak semua makanan itu halal. Ada makanan yang haram. Selain itu, kita juga dapat melihat hukum dari suatu tindakan. Contoh tindakan tersebut adalah eutanasia, yang masih pro-kontra. Maka tugas kita adalah menentukan hukumnya dengan cara penalaran berdasarkan Alquran dan hadis.

Sejarah kedokteran yang begitu luar biasa dalam dunia Islam telah membawa kedokteran hingga moder seperti saat ini. Para ilmuwan Islamlah yang pertama kali dapat menciptakan Ilmu Kedokteran yang logis dan rasional. Sejarah mengenal Ibnu Sina yang dalam dunia barat lebih dikenal dengan nama Avicenna. Alqanun (Canon of Medicine) merupakan masterpiece-nya. Ini semua dapat kita pelajari dalam aspek shirah.

Aspek kafa’ah dapat dipenuhi dengan cara tarbiyah. Kaderisasi berjenjang merupakaan cara yang baik dalam menciptakan dokter-dokter yang berbasis Islam. Tarbiyah yang baik dapat dilakukan mulai dari jenjang mahasiswa dan berlanjut seumur hidup. Banyaknya LDF (lembaga dakwah fakultas) di tiap-tiap fakultas kedokteran sekarang yang menyediakan sarana tarbiyah merupakan langkah awal yang cukup baik dalam mencetak para dokter muslim.

Bagaimana diterapkan
Permasalahan lain adalah bagaimana sistem kedokteran Islam ini diterapkan. Hingga saat ini implementasi kedokteran Islam hanya terbatas pada ranah individu ataupun kelompok saja (rumah sakit). Maka perlu jugalah diterapkan sistem kedokteran Islam ini pada ranah sistem kesehatan di Indonesia, yang implementasinya terbagi atas enam subsistem, yaitu: Upaya kesehatan; Pembiayaan kesehatan; Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan; Farmasi, Alat, dan Makanan; Pemberdayaan Masyarakat, dan; Manajemen kesehatan dan Informasi.

Jika keenam subsistem tersebut diterapkan dengan baik dengan prinsip-prinsip dari kedokteran Islam, maka diharapkan meningkatnya sistem kesehatan kita dan tersedianya akses pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Alquran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. 22:54)

Terkait masalah ini, Rasulullah saw bersabda: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan pengetahuan mereka. Adakah kalian suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari). Dalam hadis yang lain, Rasulullah juga bersabda: “Tiap-tiap diri dimudahkan mengerjakan sebagaimana dia telah diciptakan untuk amal tersebut.” (HR. Bukhari).

Untuk menciptakan peradaban, bukanlah seperti membalikkan telapak tangan, namun dengan upaya yang luar biasa berat yang dimulai daripada diri sendiri. Oleh karena itu prinsip-prinsip yang penulis terapkan di atas haruslah dapat diimplementasikan oleh semua muslim dengan baik, sesuai dengan potensi masing-masing demi kemajuan peradaban Islam. Semoga!

* Mohd. Shanan Asyi, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Email: shanan_az@yahoo.com

Editor : hasyim


Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2012/06/09/quo-vadis-kedokteran-islam